Respon Ayub Atas Pencobaan/Ujian

Ayub merupakan seorang pria yang memiliki segalanya pada zamanya—kekayaan, status, kesehatan, dan keluarga yang bahagia.
Lalu, sejumlah peristiwa pencobaan yang hebat menimpanya secara berturut-turut. Dalam sekejap, ia jatuh miskin. Berikutnya, suatu badai yang aneh merenggut nyawa semua anaknya. Tidak lama kemudian, ia terjangkit penyakit parah yang mengakibatkan sekujur tubuhnya dipenuhi bisul yang menyakitkan. (Ayub, pasal 1 dan 2).
Ada dua peristiwa pokok yang dapat kita pelajari yakni: pencobaan dan reaksi atas pencobaan yang dialami oleh Ayub.
1. Pencobaan dan Ujian
Dalam kitab , Yakobus 1:12-18, Di ay.12, disebutkan “berbahagialah orang yang mengalahkan pencobaan, karena setelah dia diuji”. artinya setiap pencobaan yang dialami sekaligus merupakan ujian. Begitupula apa yang dialami oleh Ayub merupakan pencobaan yang berasal dari setan dan sekaligus ujian yang diijinkan oleh Tuhan. Allah mengizinkan iblis mencobai Ayub, maka cobaan kali itu sekaligus sebagai ujian yang dari Allah.
Dalam konteks ini bukan berarti Allah bekerjasama dengan Setan karna Motivasi Setan untuk pencobaan adalah membinasakan dan menginginkan Ayub meninggalkan Allah, sedangkan motivasi Tuhan sebagai ujian kepada “kesempurnaan” Ayub yang mengasihi Tuhan.
Allah mempunyai rencana yang baik atas diri setiap orang yang mengasihiNya, tapi setan mempunyai rencana buruk untuk merusak rencana Allah bagi setiap orang yang mengasihiNya.
Manusia dicipta di dalam proses waktu, di mana hidupnya harus digarap dan dibentuk, dari kesempurnaan awal menuju kepada penyempurnaan yang diproses melalui tahapan ujian hidup dalam masa dan waktu.
Pada waktu Adam dicipta, dia adalah manusia yang sempurna, pada waktu Yesus lahir di dunia, Dia juga merupakan manusia yang sempurna, bedanya: Adam dicobai dan gagal – hilang kesempurnaannya, Yesus juga dicobai tapi Dia menang, lalu Dia menuju ke kesempurnaan yang lebih sempurna: sempurna yang telah diproses – tujuan terakhir. Itu sebabnya, Yesus, Anak Allah pun tidak diberi hak istimewa, Dia harus diuji, dicobai, baik oleh Allah maupun oleh setan.
Pdt.Stephen Tong dalam khotbahnya berkata: “Keturunan orang kaya gagal karena orang tuanya memandang anaknya lebih dari anak orang, boleh mendapat pengecualian, tak perlu melewati kesusahan, akhirnya malah merusak mereka. Jadi, jangan mencintai anakmu lebih dari semestinya, jangan merebut hak juangnya, jangan membuat dia menjadi setangkai bunga yang dipotong dari akarnya, diletakkan di dalam vas, diberi air yang cukup, tapi selain untuk dipajang dan difoto, tak ada guna lainnya. Setelah layu, dia akan dibuang. Jadikanlah anak-anakmu bibit yang harus ditanam, diinjak, berjuang, menumbuhkan akar, bertunas…. dia harus berjuang, berani menangkis terpaan angin topan”.

2. Respon Ayub atas Pencobaan

Hal terpenting dalam menghadapi pencobaan dan ujian adalah responya. Banyak orang gagal melewati pencobaan karna mereka lebih memperhatikan pencobaanya atau masalah yang dihadapinya sehingga cenderung respon atas pencobaan selalu tidak berdasarkan standart yang diinginkan Tuhan. Ayub memberikan keteladanan yang luar biasa dalam menghadapi pencobaan. Ayub justur bersyukur kepada Allah atas segala Pencobaan yang datang menimpanya. Jika kita punya kesempatan dicobai, bersandarlah padaNya, peganglah prinsip firmanNya. “Ini adalah mutlak” , mengapa ? sebab tak seorangpun sanggup mengalahkan pencobaan dengan mengandalkan kepandaian otaknya yang dicipta karna kita telah tercemar oleh dosa dan pelanggaran kita.
Mengapa waktu kita dicobai harus bersyukur pada Tuhan? karena fakta kita dicobai menandakan kita sudah cukup siap. Tuhan mengizinkan setan mencobai Ayub, karena Dia tahu, Ayub sudah siap menerimanya. Maka saat iblis membuat kesepuluh orang anaknya mati pada hari yang sama, guna menggoncang imannya kepada Tuhan, Ayub bisa berkata, Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil kembali. Terpujilah namaNya yang memang patut dipuji. Tapi nyonya Ayub, langsung mencela: buat apa kau cinta Tuhan, melayani Dia, lihat, apa yang kau terima dariNya? Jadi, meski mereka menghadapi cobaan yang sama, reaksi nyonya Ayub berbeda.
Ayub dan isteri berselisih pendapat, isterinya malah memakai mulut Ayub yang berbau busuk sebagai alasan untuk meninggalkan Ayub. Jadi, ada orang berhasil mengalahkan pencobaan, ada juga yang dikalahkan oleh pencobaan. Maka kata Yakobus, berbahagialah mereka yang mengalahkan pencobaan. Masalahnya: mana mungkin kita mengalahkan setan? Tidak ada cara lain, kecuali kita berada di pihak Allah.
Referensi: http://foodforsouls.blogspot.com/2004/08/menang-atas-pencobaan.html)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s