Penundukan Diri

Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”

“Lebih baik duduk di rumah daripada bekerja pada orang lain.” Demikian kata seorang bapak yang saya kenal pada suatu kali. Ia memiliki gelar sarjana, tetapi ia lebih suka membiarkan istrinya yang bekerja dengan membuka usaha jahit dan berjualan kecil-kecilan ketimbang mencari nafkah bagi anak-anaknya. Saya pun bertanya, jika memang tidak mau bekerja di bawah orang lain, mengapa dia tidak membuka usaha saja? “Memangnya modal mudah dicari…” katanya berdalih. Lantas mengapa dia tidak melayani pembeli di kios kecil yang dijaga istrinya? “Saya suka salah dalam berhitung, nanti malah rugi.” Ada saja alasan yang ia kemukakan untuk membenarkan dirinya yang tidak bekerja sama sekali. Sehari-hari hanya duduk merokok di depan rumah atau berkumpul bersama pengangguran lainnya yang rata-rata jauh lebih muda dari bapak tersebut. Sepuluh tahun saya tidak bertemu dengannya, dan ketika saya akhirnya bertemu lagi, ternyata ia masih melakukan hal yang tepat sama. Satu-satunya perubahan hanyalah uban yang lebih ‘subur’ dibanding sebelumnya.

Apa yang ingin saya angkat hari ini adalah masalah penundukan diri. Masalah penundukan diri dibawah otoritas orang lain merupakan hal yang sangat sulit bahkan dianggap mustahil bagi banyak orang. Saya sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang bermasalah dalam hal ini. Baik dalam hal tidak mau bekerja dibawah orang lain seperti bapak tadi atau orang-orang yang gonta-ganti pekerjaan karena cepat sakit hati ketika ditegur atasan. Ada banyak orang yang gagal untuk menguasai dirinya agar bisa tunduk baik terhadap peraturan maupun kepada atasan. Cepat atau lambat hal tersebut bisa menghambat kemajuan kita atau bahkan membuat kita tidak kunjung berhasil dalam hidup. Tidaklah mudah mencari kerja di hari-hari yang sulit ini. Seringkali karena masalah penundukan diri kita melewatkan begitu banyak kesempatan yang telah dibukakan Tuhan bagi kita.

Berbicara mengenai penundukan diri, sebuah keteladanan bisa kita lihat dari pribadi Yesus di masa menjelang remaja. Pada suatu kali di usia 12 tahun Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Karena begitu banyaknya orang, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka saat mereka sudah ditengah perjalanan pulang. Mereka pun bergegas kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Bayangkan bagaimana kalutnya persaan orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang tidak singkat. Alkitab bahkanmenyebutkan bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus. Dimana? Ternyata Yesus berada di dalam Bait Allah. “Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.” (Lukas 2:46). Kecerdasan Yesus dalam menjawab pertanyaan para alim ulama itu membuat mereka tercengang, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, tentu saat itu Maria dan Yusuf diliputi perasaan campur aduk, antara lega, senang dan marah. Mereka pun menegur Yesus karena pergi diam-diam tanpa pamit seperti itu. Dan lihatlah, meski dalam Alkitab tercatat bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat kepada orang tuanya di dunia ini. “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan kedua orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka, di bawah peraturan atau otoritas Maria dan Yusuf sebagai orang tuaNya di dunia. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.

Hidup di bawah penundukan diri dibawah otoritas dari orang lain seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Itu seolah bertentangan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang malah dianggap merendahkan harga diri mereka. Jika kita biarkan diri kita terus menerus dikuasai ego dengan bersikap seperti itu, maka bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau kehidupan kita, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini.

Dalam kitab Ibrani tertulis: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Perhatikanlah bahwa mentaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka ternyata merupakan sesuatu yang penting di mata Tuhan. Jika tidak melakukannya maka dikatakan bahwa kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, keluarga, kantor, kota, negara maupun gereja. Dalam Titus 3:1 hal yang sama kembali diingatkan kepada kita. “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.” Ayat yang kurang lebih sama bisa dijumpai juga melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus. Petrus berkata: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.” (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” (1 Petrus 2:18).

Selanjutnya Alkitab mengajarkan agar anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20), istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1), anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5) dan tentu saja kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego kita agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita. Apakah hari ini diantara teman-teman ada yang sedang bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, di kantor, sekolah atau dalam pelayanan di gereja? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Teladani sikap Yesus sendiri yang sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi seperti yang kita baca hari ini. Mungkin tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi percayalah kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk dapat melakukannya.

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Petrus 5:5)

Sumber: renungan harian online.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s