Terkenal itu Keren?

Ayat bacaan: Yohanes 3:30
=====================
“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

“Menjadi orang terkenal itu keren!” kata seorang teman sambil tertawa.Apa yang ia katakan menjadi kerinduan begitu banyak orang. Untuk itu orang akan berusaha dengan segala cara untuk bisa mencapai status populer atau terkenal. Segala cara, berapapun harganya, itu akan dihalalkan agar bisa memperoleh status populer di kalangan dunia. Lihatlah bagaimana berbagai kontes-kontes atau acara mencari bakat terus menjamur dan laris. Itu menunjukkan bahwa menjadi populer itu sangatlah penting bagi begitu banyak orang. Ingin dikagumi, dikenal, diperhatikan dan diidolakan. Apa boleh buat jika harus menabrak larangan-larangan Tuhan yang bisa jadi dianggap penghalang untuk bisa mencapai popularitas di mata dunia. Dan dunia pun akan terus mengajarkan kita untuk bisa populer, sukses, kaya raya, dan itu diarahkan agar kita percaya bahwa semuanya bisa membuat kita bahagia. Tetapi nyatanya tidaklah demikian. Pada suatu ketika nanti kita akan mengerti bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan dan tidak pula bisa menjamin keselamatan kita. Tidak ada tiket yang sanggup kita bayar dengan berapapun harta yang kita miliki di dunia ini yang bisa menjamin kita untuk masuk ke dalam kerajaanNya. Seberapa terkenalnya pun kita di muka bumi ini tidak akan berpengaruh terhadap kemana nanti kita akan menuju. Bukan di mata manusia atau dunia yang penting, tapi bagaimana, siapa atau seperti apa kita di mata Tuhan, itulah sesungguhnya yang terpenting.

Alkitab justru tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas di mata dunia. Populer di mata orang lain itu tidak penting. Malah Tuhan secara tegas berfirman: “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” (Lukas 6:26). Mengapa Firman Tuhan harus berbunyi sekeras itu? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberinya. Terus mengejar popularitas dunia bisa membuat kita terjebak pada kesalahan itu. Apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itulah yang sesungguhnya dituntut dari kita, dan bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya fana sifatnya.

Mari kita lihat perbedaan nyata antara pandangan dunia dengan pandangan Tuhan. Ketika dunia terus mengajarkan kita untuk terus mencari popularitas lebih dan lebih lagi, Alkitab justru mengatakan sebaliknya. Semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil, dan Tuhan lah yang seharusnya semakin besar. Lewat Yohanes Pembaptis kita bisa melihat contohnya. Ia merupakan satu-satunya orang yang diberi kehormatan besar untuk membaptis Yesus. Berdasarkan itu, ia bisa saja membanggakan dirinya dan mencari popularitas untuk dirinya sendiri, tetapi lihatlah apa katanya. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya…Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia. Ini jelas berbanding terbalik dari apa yang hebat dalam pandangan dunia.

Memilih untuk rendah hati dan tidak mengejar ketenaran bisa jadi dianggap pilihan tidak populer atau malah bodoh di mata dunia. Tapi bila memang kita harus dianggap aneh oleh dunia, atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan,itu masih jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi kita sebagai ahli waris Tuhan. Yesus bahkan telah mengingatkan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Kenapa? “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:25). Dan itulah yang sesungguhnya kekal. An everlasting, eternal life. Itu yang dijanjikan oleh Kristus. Itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Lalu dengarkanlah apa kata Yesus selanjutnya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (ay 26). Apa gunanya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah? Buat apa terlihat hebat di mata dunia dan dikenal semua orang tetapi Tuhan tidak mengenal kita dan kita sama sekali tidak tertulis di dalam daftar yang akan masuk menerima kebahagiaan yang kekal kelak bersamaNya?

Apakah itu artinya kita tidak boleh populer? Tentu saja tidak, sepanjang itu bukan menjadi prioritas utama untuk dikejar dalam hidup ini. Menjadi populer bisa sangat baik apabila itu dipakai untuk memuliakan Tuhan. Ada banyak penyanyi atau musisi saat ini yang rajin memberkati penonton dari panggung padahal mereka bukan sedang berada dalam kebaktian atau KKR. Seperti itulah seharusnya hidup ini kita gunakan, untuk itulah seharusnya popularitas kita pakai. Semakin tinggi kita naik, seharusnya Tuhanlah yang semakin kita tinggikan dan kita sendiri semakin kecil. Populer boleh saja, tetapi bukan untuk menunjukkan kekuasaan atau kehebatan kita tetapi untuk menyatakan kebenaran, kebaikan dan kasih Tuhan.

Kita harus hati-hati dengan berbagai tawaran dunia yang menjanjikan kepopuleran dan ketenaran. Itu semua tidaklah penting karena tidak akan pernah bisa berguna untuk kehidupan kita kelak jika hanya dipakai untuk mencari keuntungan diri sendiri. Muliakan Tuhan di dalam segala yang kita kerjakan, biarlah setiap langkah kesuksesan kita menyerukan nama Tuhan dan bukan nama kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap aneh atau bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai betul keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar. Dan itu jauh lebih cukup ketimbang ketenaran di mata manusia yang bisa semakin menyesatkan kita dan semakin menjauhkan kita dari Tuhan.

Kita diminta untuk menjadi orang benar dan bukan untuk menjadi populer.

Sumber: Renungan Harian Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s