Patuh atau Pembangkang?

Patuh atau Pembangkang?

Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

patuh, membangkangBagi teman-teman yang mempunyai anak bertipe keras dan pembangkang tentu tahu bagaimana repotnya mengurus mereka. Jika anak-anak yang bandel saja sudah menyulitkan, bayangkan bagaimana susahnya berhadapan dengan orang-orang dewasa yang bertipe sama seperti ini. Bagaimana repotnya mengurus karyawan yang bandel di kantor? Seorang teman saya mengeluhkan hal itu belum lama ini. Ia bercerita bahwa sangat sulit mengontrol banyak orang dengan sifat yang berbeda. Masih lumayan jika hanya sifat yang beragam, tapi bagaimana seandainya ada pembangkang-pembangkang keras kepala diantaranya? Mungkin kita mudah berkata pecat saja, tapi pada kenyataannya urusan pecat memecatpun tidak semudah yang kita duga. Satu hal yang pasti, tidaklah mudah mengurus orang-orang yang suka membangkang atau melawan. Makan hati berulam jantung, kata peribahasa kita. Bisa membuat kita kecewa, sedih, emosi dan sebagainya.

Pernahkah kita terpikir bagaimana perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri? Ada banyak orang percaya yang menolak untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan dan terus melemparkan alasan demi alasan sebagai pembenaran. Itu faktanya, dan bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Tuhan melihat perilaku seperti ini. Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, Tuhan pun akan merasakan hal yang sama jika harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri bersikap buruk seperti ini. Dia sudah memberikan segala yang terbaik, menjanjikan keselamatan bahkan rela ketika harus mengorbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus mati demi kita. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasannya? Kita malah terus melawan dan membangkang. Dan itu tentu saja menyedihkan. Bukan saja karena harus berhadapan dengan kebandelan kita, tapi juga karena itu berarti kita menolak kasih karunia Tuhan dan lebih memilih untuk berakhir pada sisi yang penuh siksaan dalam fase kekekalan yang nanti tiba.

Seperti apa bentuk-bentuk kebandelan ini? Ada banyak sekali. Lihatlah beberapa diantaranya. Ketika Tuhan berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28), kita menjawab: maaf, tapi saya terlalu sibuk dengan kegiatan, pekerjaan atau aktivitas-aktivitas lainnya untuk menjumpai Anda. Waktu Tuhan menginginkan kita untuk rajin membaca dan merenungkan FirmanNya, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam” (Yosua 1:8), kita berkata bahwa kita tidak punya cukup waktu untuk melakukannya. Padahal Tuhan meminta kita melakukan itu demi kebaikan kita sendiri juga, seperti kelanjutan ayat diatas yang berbunyi: “.., supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Saat Tuhan berseru “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11), kita malah menolak untuk diam, karena merasa diam sejenak hanyalah akan buang-buang waktu. Daripada diam, kita jauh lebih tertarik untuk panik dan terus mencari jalan menurut kita sendiri, termasuk mengambil keputusan-keputusan yang justru semakin jauh dari kehendak Bapa. Kita semakin keluar jalur, terus menganggap kita sendiri yang paling tahu tanpa memikirkan dampak negatif yang bisa timbul sebagai akibatnya. Lantas ketika Tuhan berkata “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16), kita malah berkata, “nanti dulu, bukankah dunia ini penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang sayang untuk diabaikan?” Ini baru beberapa contoh saja mengenai pembangkangan yang sering dilakukan orang percaya. Bukannya taat, kita menyerah pada keadaan dan ikut-ikutan berlaku sesat seperti yang dilakukan banyak orang. Padahal disetiap perintah Tuhan tersimpan janji luar biasa yang siap diberikan kepada kita sebagai upahnya. Sayangnya kita justru lebih tertarik untuk urusan-urusan lainnya di dunia ini lebih dari menunjukkan ketaatan kepada Tuhan. Apa yang dirasakan Tuhan melihat perilaku-perilaku kita yang dengan berbagai alasan menomor-duakan dan mengabaikanNya? Sebagai orang yang mengaku sebagai anak-anakNya, pantaskah kita berbuat seperti itu?

Kitab Ulangan memberikan dua pilihan yang dihadapkan kepada kita semua. “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ulangan 30:19). kelanjutannya mengatakan bagaimana caranya, yaitu “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya.” (ay 20). Seruan ini sesungguhnya amatlah penting untuk kita perhatikan, karena “..hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Membangkang dan terus lebih mementingkan kesibukan dunia tidak akan pernah membawa kebaikan, justru sebaliknya membawa kerugian bagi kita. Meski mungkin terlihat menyenangkan dan nikmat, itu semua hanyalah sekejap saja sementara dampaknya akan berpengaruh pada sesuatu yang kekal kelak. Ini bukan berarti bahwa kita salah jika serius bekerja di dunia atau sibuk melakukan aktivitas-aktivitas sehari-hari, atau berarti kita sama sekali tidak boleh bersenang-senang sedikitpun, namun janganlah semua itu menjauhkan kita dari Tuhan atau menjadikan kesibukan kita sebagai alasan untuk melupakan hubungan kita yang erat dengan Tuhan. Tuhan pun sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak bagi kita, apalagi semua itu juga untuk kebaikan kita juga. Lihatlah Firman Tuhan berikut ini: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Jika anda merasa bahwa menghadapi anak-anak yang taat jauh lebih membahagiakan ketimbang anak-anak pembangkang yang keras kepala, mengapa kita tidak menunjukkan sikap seperti itu juga kepada Bapa yang telah begitu baik kepada kita? It’s for our own’s sake afterall.
Senangkan hati Tuhan dengan menjadi anak-anakNya yang patuh.
Sumber : Renungan Harian online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s