Konsumtif vs Rasa Cukup

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:8
=======================
“Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”

rasa cukupSeberapa jauh kita bisa bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki sekarang? Puji Tuhan jika anda termasuk orang yang bersyukur atas segala yang ada pada anda, meski mungkin ada di antara teman-teman yang masih hidup pas-pasan atau sering disebut orang dengan cukup makan alias pas-pasan. Kenyataannya dunia semakin cenderung mendorong sikap konsumtif untuk keluar. Berbagai iklan menggambarkan seolah-olah kebahagiaan pasti diperoleh jika membeli produknya, bahkan ada pula yang secara tidak langsung atau mungkin terang-terangan bahwa orang yang tidak membeli produknya adalah orang-orang yang ketinggalan jaman, kurang gaul dan sebagainya. Kita terus berusaha memiliki segala-galanya. Tidak pernah ada kata cukup buat kita, dan dengan demikian kita terus mengejar untuk memiliki lebih banyak lagi. Tawaran-tawaran kartu kredit di pusat-pusat perbelanjaan yang mendesak atau memaksa dengan sikap kurang sopan terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Selamat siang pak, sudah punya kartu kredit dari bank A?” Jika anda menjawab sudah punya, mereka pun kemudian akan bertanya: “Pakai kartu kredit apa pak?” Ini bentuk-bentuk pemaksaan yang terus terang membuat saya cukup risih berhadapan dengan mereka. Ada pula yang menelepon menawarkan fasilitas ini dan itu, seperti yang baru saja saya alami. Bayangkan, saya harus membayar 2 juta rupiah untuk memperoleh fasilitasnya, dan itu ia katakan sebagai hadiah. “Tidak semua orang loh pak, hanya 30 orang saja, dan ini sudah saya siapkan. Bapak beruntung terpilih untuk memperoleh ini. Sayang lho kalau diambil orang lain. Dikirimnya ke alamat mana?” Wah, saya cuma geleng-geleng kepala saja mendengar ini dan merasa miris melihat bagaimana dunia terus berubah menjadi semakin materialistis, egois dan konsumtif.

Ada banyak orang yang berhutang demi memiliki gadget tertentu. Itu bukan karena mereka memerlukannya, tetapi hanya sekedar agar tidak dianggap ketinggalan jaman, miskin atau tidak gaul. Ada yang terpaksa habis-habisan atau bahkan harus melakukan kecurangan agar bisa mengikuti gaya hidup sebuah lingkungan pergaulan kelas atas supaya terlihat hebat. Saya mengenal banyak orang yang punya pandangan seperti ini. Semakin lama kita semakin sulit untuk merasa bersyukur atas segala yang kita miliki, semakin jarang kita mendengar kata cukup diucapkan dengan penuh sukacita. Dunia mengarahkan kita ke pola pikir seperti itu. Karena itulah kita perlu kembali melihat betapa pentingnya sebuah rasa cukup bagi hidup kita. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang kemaruk dan tidak pernah puas. Tuhan ingin kita menjadi orang yang tahu bersyukur di atas rasa cukup.

Kepada Timotius, Paulus berkata: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6). Lihatlah bahwa hanya ibadah yang disertai rasa cukuplah yang akan memberi keuntungan besar. Sebaliknya ibadah tidak akan bermakna apa-apa apabila rasa tidak pernah puas terus mewarnai hidup kita sebagai pribadi-pribadi konsumtif yang hanyut dengan arus dunia yang semakin lama semakin buruk. Jika demikian, seberapa jauh sebenarnya kata cukup itu menurut Alkitab? Dari rangkaian ayat dalam 1 Timotius 6 ini kita bisa menemukan jawabannya. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (ay 8). Makanan dan pakaian, keduanya adalah kebutuhan paling mendasar manusia yang seharusnya mendatangkan kata cukup jika sudah dimiliki. Tapi berapa banyak orang yang masih bisa bersyukur kalau cuma memiliki makanan dan pakaian? Kecenderungan manusia adalah kemudian melebarkan kedua kebutuhan vital ini di dalam balutan kemewahan. Makanan seperti apa? Baju merek apa dan gayanya bagaimana atau seharga berapa hingga berapa banyak koleksinya. Sesungguhnya Alkitab sudah mengingatkan kita bahwa setidaknya jika kita masih bisa makan dan tidak harus telanjang, itu artinya kita sudah layak untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Jika kita lupa akan hal ini kita tidak akan pernah bisa bersyukur. Lalu rasa tidak puas dan masih kurang akan terus menguasai diri kita. Ayat selanjutnya berkata: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” (ay 9). Inilah yang terjadi jika kita membiarkan diri kita untuk selalu mengejar kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan utama. Karena memburu uang, kita bisa menyimpang dari iman, terjatuh dalam lubang-lubang dosa dan menjadi seorang hamba uang. Karenanya tidak berlebihan jika dikatakan “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” (ay 10).

Saya tidak sedang menganjurkan kepada kita semua untuk menjalani hidup miskin. Tidak. Tuhan pun tidak bermaksud demikian. Apa yang diingatkan Tuhan adalah agar kita tidak menjadi orang-orang konsumtif yang tidak pernah puas, melainkan menjadi orang-orang yang tahu berterimakasih, tahu mengucap syukur atas segala yang telah Tuhan berikan kepada kita. Sekecil apapun, berkat tetaplah berkat yang seharusnya kita ucapkan syukur atasnya. Jika kita melihat ayat 1 Timotius 6:10 diatas, kita bisa melihat bahwa bukanlah “uang” nya yang menjadi akar segala kejahatan melainkan “cinta akan uang”. Mempertuhankan harta di atas segalanya termasuk di atas Sang Pencipta kita. Dan itulah akar dari segala kejahatan, the root of all evil. Dan Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita mengenai bahaya akan hal ini. “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13, Matius 6:24). Untuk menghindari terjebaknya kita dalam hal itu, kita harus belajar mengerti mengenai rasa cukup. Bukan terus tidak puas dan terus merasa kurang, tetapi mampu bersyukur atas apa yang kita miliki dengan rasa cukup. Dan itulah yang akan memberikan keuntungan besar bagi perjalanan hidup kita menuju keselamatan di ujung sana.

Kembali kepada 1 Timotius 6 di atas, selanjutnya kita diingatkan pula bahwa sebenarnay kita tidak membawa apapun ke dalam dunia, dan nanti kita tidak akan dapat membawa apa-apa ke luar. “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” (ay 7). Jadi buat apa semua itu kalau hanya bisa memberikan kenikmatan sesaat tetapi lalu menjauhkan kita dari kebahagiaan yang kekal? Tuhan Yesus pun mengatakan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Dalam surat Ibrani kembali kita diingatkan akan hal yang sama : “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5). Jika Tuhan sudah berjanji untuk tidak sekali-kali membiarkan atau meninggalkan kita, mengapa kita harus terus merasa tidak puas dan tidak nyaman dengan apa yang kita miliki hari ini? Alangkah baiknya jika kita mulai belajar untuk mampu mencukupkan diri dengan segala apa yang ada pada kita saat ini dan senantiasa mengucap syukur atasnya. Kita harus melatih diri agar bisa memiliki rasa cukup dan tidak terus merasa kekurangan, dan itu sesungguhnya akan memberi keuntungan besar yang sangat penting buat masa depan kita kelak setelah masa di dunia ini selesai. Dimana letak anda saat ini? Apakah masih terpengaruh oleh budaya konsumtif seperti yang dipercaya dunia sebagai yang terbaik atau anda termasuk orang yang selalu bersyukur di tengah keterbatasan atau cukup-cukupan saja? Sekali lagi, Tuhan tidak menginginkan anda menjadi orang-orang yang miskin dan menderita di dunia, tetapi apa yang Dia inginkan adalah agar kita menjadi orang-orang yang tahu terima kasih dan tahu bersyukur atas berkat-berkat yang telah Dia berikan kepada kita.

Berhentilah terus mengejar apa yang tidak kita miliki, mari fokus untuk bersyukur atas apa yang sudah ada pada kita saat ini

Sumber: http://renungan-harian-online.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s